Rabu, 21 Desember 2016

Teori-teori kebeneran Filsafat Ilmu



Dalam kehidupan manusia, kebenaran merupakan fungsi rohaniah, manusia dalam kepribadian dan kesadarannya tak mungkin tanpa kebenaran. Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusia atau martabat kemanusiaan selalu berusaha memeluk kebenaran. Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melakukan kebenaran itu. Dalam menguji suatu kebenaran diperlukan teori-teori ataupun metode –metode yang akan berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi jalannya pengujian tersebut. Berikut ini teori tentang kebenaran dalam perspektif filsafat ilmu :
1.  Teori kebenaran korespondensi
Teori kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang memandang bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri. Dalam pengertian lain kebenaran adalah sesuatu yang bersesuaian dengan fakta. Suatu proporsi adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan menyatakan apa adanya. Teori ini merupakan teori kebenaran tradisional karena Aristoteles sejak awal mensyaratkan kebenaran pengetahuan harus sesuai dengan kenyataan yang diketahuinya. Jadi secara sederhana dapat disimpulalkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dan sesuai dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori ini sudah sudah ada di dalam masyarakat sehingga perilaku moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa yang diajarkan nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam tingkah-lakunya. Artinya anak harus mewujudkan di dalam kenyataan hidup, sesuai dengan nilai-nilai moral itu. Bahkan anak harus mengerti hubungan antar peristiwa-peristiwa di dalam kenyataan dengan nilai-nilai moral itu dan menilai adakah kesesuaian atau tidak sehingga kebenaran berwujud sebagai nilai standar atau asas normative bagi tingkah laku.  

2.  Teori konsistensi atau teori koherensi
Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antar putusan dengan sesuatu yang lain yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam penelitian pendidikan khususnya di dalam bidang pengukuran pendidikan. Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori korespondensi. Kedua teori ini bersifat melengkapi. Teori konsistensi adalah pendalaman dan kelanjutan yang teliti dari teori korespondensi. Teori korespondensi merupakan pernyataan-pernyataan dari arti kebenaran. Sedangkan teori konsistensi merupakan usaha pengujian (test) atas arti kebenaran tadi.  

3.  Teori pragmatik
Menurut teori ini segala sesuatu dikatakan benar sepanjang proporsi itu berlaku atau memuaskan (satidfies). Teori pragmatis menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Teori ini dikenal dengan teori problem solving, artinya teori yang dengan itu dapat memecahkan segala aspek permasalahan.

Semua teori kebenaran itu ada dan di praktekan manusia di dalam kehidupan nyata. Yang mana masing-masing mempunyai nilai di dalam kehidupan manusia. Dengan mengetahui teori-teori kebenaran, diharapkan kita dapat menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar