Rabu, 21 Desember 2016

Auguste Comte Sebagai Tokoh Aliran Filsafat Perancis



 Auguste Comte dilahirkan di Montpellier, Perancis, tahun 1798. Keluarganya beragama Katholik yang berdarah bangsawan. Meskipun demikian, Comte tidak terlau peduli dengan kebangsawanannya. Dia mendapat pendidikan di Ecole Polytechnique di Paris dan lama tak hidup disana.
Sumbangan kreatif yang khas dari Comte terhadap perkembangan filsafat, ternyata dibarengi pula oleh sumbangan pemikirannya terhadap sosiologi, bahkan Martindale melihatnya sebagai suatu sintesis antara dua perspektif yang saling bertentangan mengenai keteraturan social : positivisme dan organisme. Seperti dalam positivismenya, ia menerima dengan sepenuhnya pandangan dunia ilmih atau berdasar hokum-hukum alam, serta strategi untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan masyarakat. Orang positivis percaya bahwa hokum-hukum alam yang mengendalikan manusia dan gejala social dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan social dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hokum-hukum itu. Hasilnya berupa suatu masyarakat yang rasionya dapat menghasilkan kerja sama dengan melenyapkan kepercayaan terhadap takhayul, ketakutan, kebodohan, paksaan dan konflik social. Pandangan tersebut merupakan starting Comte yang melahirkan positivisme.
               Perspektif organic menekankan tentang masyarakat sebagai suatu organisme, keseluruhan lebih dari sekedar umlah bagian-bagiannya dan hanya dapat dimengerti sebagai totalitas. Bagi Comte, suatu masyarakat yang benar hanya dapat mempertahankan kebenaranya jika ia senantiasa memahami fungsi-fungsi social sebagaimana memahami fungsi-fungsi biologis. Individu sesungguhnya adalah kelompok, karena pemahaman terhadap organ tubuh merupakan pemahaman tentang keseluruhan fungsi organic.
         Dalam perspektif organic ada bahaya bahwa usaha untuk membentuk pembaruan-pembaruan mungkin mengganggu keutuhan masyarakat yang organic alamiah itu diperlemah dan hancur. Mereka yang menerima pandangan ini sangat takut akan bayang-bayang suatu masyarakat yang sebenarnya, tetapi sekedar massa individu tanpa ikatan moral. Mereka takut bahwa tekanan positivis pada pembaharuan, kepentingan diri rasional, dan individualisme sebenarnya akan mengahancurkan dasar-dasar tatanan social dengan merombak konsensus moral yang mengikat individu yang terdapat dalam berbagai tradisi suatu masyarakat yang sudah terakumulasi, yang sudah disumbangkan oleh banyak generasi secara bertahap dan melampaui pengetahuan mereka yang terbatas yang hendak menghancurkan tradisi-tradisi ini demi peningkatan rasionalitas ilmiah dan kemajuan.
                  Suasana politik dan social juga bergolak. Comte hidup diakhir-akhir Revolusi Perancis, termasuk serangkaian pergolakan yang tampaknya berkesinambungan, seperti pada saat Rezim Nepoleon Bonaparte, penggantian Monarki, revolusi dan periode Republik. Dengan lingkungan social yang menggemparkan itu, tidak heran jika Comte sangat menekankan pentingnya keteraturan social. Dalam pernyataannya disebutkan bahwa masyarakat diancam oleh kekacauan intelektual dan social politik maka menegakkan kembali keteraturan atas dasar pengetahuan hokum masyarakat positif yang logis sangat penting untuk menjamin kemajuan yang terus berjalan.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar