Rabu, 21 Desember 2016

Hubungan Bahasa dan Kebudayan



Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, seperti bernafas dan berjalan. Menurut Ernest Cassirer, sebagaimana yang dikutip oleh Jujun, bahwa keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan berpikir melainkan terletak pada kemampuan berbahasa (Jujun S. Suriasumantri dalam bakhtiar, 2010:175). Berpikir sebagai proses berkerjanya akal dalam menelaah sesuatu merupakan ciri hakiki manusia. Hasil kerjanya dinyatakan dalam bentuk bahasa. Bahasa adalah suatu simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat berkomunikasi (Bloch dan trager dalam buku bakhtiar 2004:176).
Bahasa bukan saja merupakan property yang ada pada diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antar persona. Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang didalamnya terkandung makna. Dari sudut wacana, makna tidak pernah bersifat absolute, selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu pada tanda-tanda kehidupan manusia yang didalamnya ada budaya. Karena itu bahasa tidak pernah lepas dari konteks budaya dan keberadaannya selalu dibayangi oleh budaya.
Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya akan berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonesia merujuk kepada jenis binatang yang hidup dalam bahasa Inggris sepadan dengan Fish; dalam bahasa banjar disebut iwak. Namun, kata iwak dalam bahasa Jawa bukan berarti ikan atau fish, melainkan daging yang digunakn sebagai lauk (teman makan nasi). Malah semua lauk seperti tahu dan tempe sering juga disebut iwak.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Semua ini karena bahasa itu adalah produk budaya dan sekaligus wadah penyampai kebudayaan dari masyarakat bahasa yang bersangkutan. Dalam budaya masyarakat Inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok, hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah dan padi. Karena itu, kata rice pada konteks tertentu berarti nasi pada konteks lain bearti gabah, padi atau beras pada konteks lain pula. Lalu karena makan nasi bukan merupakan kebudayaan Inggris, maka dalam bahasa Inggris dan juga bahasa lain yang masyarakatnya tidak berbudaya makan nasi tidak ada yang menyatakan lauk atau iwak (bahasa Jawa). Contoh lain dalam budaya Inggris pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama) berdasarkan jenis kelamin; brother and sister. Padahal budaya Indonesia membedakan berdasarkan usia, yang lebih tua disebut kakak dan yang lebih muda disebut adik. Maka itu brother dan sister dalam bahasa Inggris bisa berarti kakak dan bisa juga adik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar