Kamis, 08 Desember 2016

Apakah kematian menjadi suatu “masalah”?




Jika seseorang yang kita sayangi seperti orang tua, kakak, adik dan anggota keluarga lainnya meninggal (mengalami kematian), otomatis kita merasa kehilangan, dan merasakan kesedihan dan juga merasakan ketakutan. Kematian memang suatu hal yang tidak bisa ditebak. Ia datang secara tiba-tiba merusak harmoni di dalam keluarga dan di dalam hubungan antar manusia, Inilah alasan, mengapa kematian menjadi suatu “masalah”.
Tidak ada dunia setelah kematian. Yang ada adalah kekosongan, karena energi berpindah menjadi sesuatu yang lain. kita tak mungkin bisa memastikan, apa yang terjadi setelah kematian. Karena itulah kematian menciptakan rasa takut. Namun, jika diteliti lebih dalam, seperti dinyatakan oleh Budi Hardiman, yang menakutkan bukanlah kematian, melainkan mati, yaitu proses menuju kematian. seseorang pada dasarnya, tidak takut akan kematian. Namun, semua orang bahkan para penganut agama yang merindukan surga, tidak mau menjalani proses menuju kematian. Proses tersebut memang kerap kali tragis, seperti kecelakaan berdarah, penyakit yang menyiksa dan sebagainya.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, kematian meninggalkan luka dalam di hati. Luka yang timbul dari kematian menimbulkan suatu kesedihan pada keluarga atau saudara yang ditinggalkan. Pada beberapa peristiwa yang ekstrem, kematian satu orang bisa mendorong kematian orang lainnya, persis karena kehilangan atau rasa tidak terima yang dirasakannya.
Salah satu pertanyaan penting dalam hidup manusia adalah, apa yang terjadi setelah kematian? Ini pertanyaan yang amat penting. Di berbagai peradaban dunia, kita bisa dengan mudah menemukan adanya konsep tentang hidup sesudah mati. Setelah kematian, orang akan memasuki alam berikutnya. Di sana, jika ia menjalani hidup yang baik, ia akan mendapatkan kebahagiaan. Jika hidupnya jahat, maka ia harus menjalani hukuman. Inilah pola yang cukup universal, yang dapat ditemukan di berbagai cerita mitologis di hampir semua peradaban dunia. Pandangan ini kemudian dilanjutkan oleh agama-agama dunia dengan konsep surga dan neraka. Orang baik akan masuk surga, dan menemukan kebahagiaan abadi disana. Sementara, orang jahat akan masuk neraka, serta mengalami hukuman berat disana.
Argumen yang dianggap masuk akal mengenai hidup dan mati adalah, bahwa kehidupan itu adalah energi, dan energi itu abadi. Ia hanya berpidah tempat. Maka, setelah orang mati, energinya akan kembali ke alam, dan menjadi sesuatu yang lain. Semua pandangan mengenai kehidupan setelah kematian hanya bisa berperan sebagai kemungkinan, namun bukan kebenaran.
Apakah kematian menjadi suatu masalah atau tidak? menurut penulis bergantung pada masing-masing orang dalam memahaminya. Penulis sendiri memahami Kematian sebagai suatu kejadian yang dapat kita ambil hikmahnya yaitu sifat ikhlas, sabar dan sebagainya. Selain itu Penulis juga memahami Kematian sebagai suatu proses perubahan, baik perubahan keadaan, maupun perubahan jiwa manusia itu sendiri, dimana dengan perubahan tersebut kita dapat mengetahui bagaimana cara kita menjalani hidup setelah kita ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar