Sabtu, 17 Desember 2016

Hubungan Filsafat Budaya Dengan Bahasa



Secara etimologi kata ‘budaya’ berasal dari bahasa sansekerta yakni budi dan daya. Budi yang berarti akal dan daya yang berarti kehendak, atau kemampuan. Kata budaya sering juga disebut Culture. Kata ‘culture’ secara etimologis berasal dari bahasa latin. Cult yang artinya praktek peribadatan atau bisa juga berarti bid’ah. Arti kata ‘culture’ dalam antropologi dapat diartikan sebagai praktek ritual yakni suatu usaha trans yang dilakukan oleh manusia; mencoba untuk mencapai sesuatu diluar dirinya dan yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. Bisa disimpulkan bahwa ‘culture’ adalah usaha manusia untuk berkomunikasi dengan sesuatu yang tertinggi (supranatural) dan menghindari yang natural. Namun ‘culture’ juga bisa disebut sebagai modus pemikiran/model berpikir manusia dalam berbahasa.
Mitos hadir pada jaman Yunani ketika manusia belum bisa mencapai kemampuan berpikir. Mereka menggunakan ‘logos’ (rasional dan ontologism teratur) menggunakan kata dan prinsip keteraturan. Orang Yunani menemukan konsep culture di dalam logos. Konsep keteraturan yang ada dalam mitologi menjadi dasar lahirnya filsafat. Karena filsafat mengambil ‘logos’ hal rasionil dari mitologi. Kata logos sendiri dalam bahasa Yunani artinya adalah ‘kata’.  Logos berusaha untuk mengatasi hal-hal yang chaos yang abstrak dan hanya merupakan sebuah konsep pikiran. Filsuf jaman Yunani berpikiran kalau mitologi bukanlah chaos melainkan kosmos. Bisa dibilang bahwa dunia adalah suatu keteraturan, karena dunia disusun oleh planet-planet yang memiliki keteraturan dalam tata surya.
Syarat sesuatu menjadi culture adalah dengan adanya proses naming/pembahasaan. Naming merupakan dasar dari filsafat budaya. Variabel (potensi menjadi) adanya culture adalah penamaan atau pembahasaan. Bahasa yang merupakan suatu tatanan mental untuk berkomunikasi juga berperan sebagai ekspresi inderawi dari manusia. Jika sesuatu belum dibahasakan maka sesuatu itu belum eksis. Hal ini disebut nominalisme; “Sesuatu dinamakan sesuatu karena dia disebut dengan sesuatu”. Seorang disebut sudah bisa membentuk culture adalah ketika dia mampu untuk menyusun kata-kata dan mentranslasi sesuatu yang nature menjadi culture.
Proses naming merupakan suatu bentuk interpretasi. Naming sendiri dibagi menjadi dua bagian ilmu lainnya.
  1. Semiotik, Berasal dari bahasa Greece ‘Semion” yang berarti tanda. Ilmu ini berusaha untuk membaca tanda-tanda.
2.  Hermeneutika, Dalam hermeneutic dilakukan banyak pemaknaan dan interpretasi.
Menurut Ferdinand de Saussure hubungan stuktural bahasa bisa dilihat dari relasi yang muncul dari penanda dan petanda yang dibuat oleh bahasa. Relasi ini pada akhirnya diciptakan oleh manusia itu sendiri. Kenapa culture disebut dengan proses mengabstraksi adalah karena setiap benda yang dibahasakan menjadi lebih abstrak. Misalnya benda yang disebut spidol. Kata ‘spidol’ sebenarnya tidak mengacu pada benda itu. Ada hal yang abstrak yang hadir ketika kita menamakan sebuah benda. Menurut Marx, industrialisasi memunculkan culture karena dengan industrialisasi menghadirkan interpretasi. Dalam industrialisasi yang menjadi suprastuktur adalah culture dan yang menjadi infrastruktur adalah ekonomi dan material.
Dalam dunia filsafat, konsep culture hadir pada masa-masa filsafat manusia berlangsung. Adalah Socrates yang mengemukakan pandangan “Know thy self” Kenali dirimu! Saat itulah manusia membebaskan diri dari hal-hal yang nature dan mencoba untuk melakukan proses immanence dengan mulai membangun konsep-konsep culture. Saat seorang manusia megatasi ketidaktahuan dirinya akan dirinya sendiri maka pada waktu itulah manusia akan melakukan translasi pada dirinya sendiri. Tubuh manusia kemudian akan menjadi kumpulan dari logos-logos (kata-kata) yang akhirnya menimbulkan thesis bahwa tubuh manusia adalah sebuah teks. Culture juga merupakan translasi dari nature. Saat manusia tidak mampu untuk mentranslasi sesuatu yang sifatnya masih nature maka manusia dengan segala keterbatasannya sebagai manusia akan melakukan naming atau pembahasaan. Maka seketika sesuatu itu akan berubah menjadi nature.
Setelah thesis bahwa culture hanya bisa terbentuk dari sesuatu yang sudah dibahasakan maka akan timbul satu pertanyaan besar. Apakah ada sesuatu yang berada di luar bahasa? Jika ada apakah itu murni sebuah nature? Apakah hanya nature yang belum menjadi culture?
Adapun sesuatu yang berada di luar bahasa adalah: Insting. Ketika kita ingin mengangkat benda yang jelas-jelas jauh lebih besar dan berat dari kita maka insting kita akan langsung bekerja untuk menolak mengangkat benda tersebut. Bahkan kita tidak perlu mengetahui berapa beratnya benda itu. Maka tanpa ditranslasikan menjadi kata-kata yang berwujud suatu satuan massa kita sudah bisa memberikan pandangan mengenai benda tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar