Rabu, 21 Desember 2016

Bentuk-Bentuk Filsafat



Filsafat dapat dipandang sebagai aktivitas dalam tiga bentuk atau gaya, yaitu spekulatif, preskriptif, dan analitis.
a)   Filsafat spekulatif
Filsafat spekulatif adalah suatu cara berfikir sistematis mengenai segala hal yang ada. Mengapa para filsuf melakukan ini? Mengapa mereka tidak seperti ilmuwan saja yang mempelajari aspek tertentu dalam kehidupan? Jawabannya adalah bahwa pikiran manusia berharap melihat suatu hal secara keseluruhan. Berharap untuk mengerti bagaimana semua hal yang berbeda yang ditemukan secara bersamaan akan menghasilkan sesuatu yang sangat berarti secara keseluruhan. Dan kita pun terus mengikuti hal-hal tersebut. Ketika kita membaca sebuah buku, melihat lukisan, atau mempelajari sebuah tugas, kita sadar bahwa tidak hanya detail tertentu saja yang diperhatikan tetapi harus memperhatikan juga pola-pola yang memberikan perbedaan pada detail-detail tersebut.
Filsafat spekulatif adalah suatu pencarian untuk aturan dan suatu hal yang menyeluruh, yang diterapkan bukan hanya pada hal tertentu atau pengalaman tertentu saja tetapi untuk seluruh ilmu pengetahuan dan pengalaman. Singkatnya, filsafat spekulatif adalah suatu usaha untuk menemukan hubungan dari keseluruhan aspek dari pikiran dan pengalaman. Filsafat Spekulatif merenungkan secara rasional spekulatif seluruh persoalan manusia dalam hubungannya dengan segala yang ada pada jagat raya ini. Filsafat berusaha menjawab seluruh pertanyaan yang berkaitan dengan manusia, eksistensinya, fitrahnya di alam semesta ini, dan hubungannya dengan kekuatan-kekuatan supranatural. Filsafat spekulatif memiliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi, dengan penalaran intelektualnya itu manusia berusaha membangaun suatu pemikiran tentang manusia dan masyarakat. Contoh dari paradigma  filsafat ini adalah filsafat yunani kuno, filsafat Socrates, Plato dan filsafat Aristoteles.

b)   Filsafat Preskriptif
Filsafat preskriptif menyusun standar untuk memeriksa nilai, menilai hubungan, dan menghargai seni. Filsafat preskriptif menilai apa yang kita maksud dengan baik dan buruk, benar dan salah, indah dan jelek. Filsafat preksriptif bertanya apakah hubungan bentuk-bentuk kualitas ini berkaitan satu sama lain atau hanya merupakan proyeksi dari pikiran kita. Bagi psikolog, hubungan manusia secara moral, baik atau buruk, akan membentuk sikap-sikap yang dapat dipelajari. Tapi menurut pendidik dan filsuf preskriptif beberapa bentuk sikap ada yang berharga dan ada yang tidak. Filsuf preskriptif mencari untuk menemukan dan mengajukan prinsip-prinsip untuk memutuskan suatu kegiatan dan nilai kualitas apa yang bermanfaat dan mengapa hal tersebut harus dilakukan.
c)   Filsafat Analitis
Filsafat analitis berfokus pada kata dan artinya. Filsuf analitis memeriksa notasi-notasi seperti “sebab”, “pikiran”, “kebebasan akademik”, dan “kesamaan kesempatan”, dalam rangka untuk menilai pengertian yang berbeda dalam konteks berbeda. Filsuf analitis manunjukkan bagaimana ketidak-konsistenan akan muncul ketika pengertian dalam suatu konteks diaplikasikan pada konteks lain. Filsuf analitis cenderung skeptik, berhati-hati, dan menolak untuk membangun suatu sistem berfikir.
Sekarang ini pendekatan analitis mendominasi filsafat Amerika dan Inggris. Di Benua Eropa berlaku tradisi spekulatif. Tetapi apapun filsafat yang banyak digunakan pada waktu kapanpun, kebanyakan filsuf setuju bahwa semua pendekatan berperan pada perkembangan filsafat. Spekulasi tanpa analisis akan membuat suatu hal menjadi tidak relevan. Analisis tanpa spekulasi juga akan menurun pada rincian yang tidak penting dan menjadi hampa. Pada kasus manapun, hanya terdapat beberapa filsuf yang semata-mata spekulatif, preskriptif, dan analitis. Spekulasi, perskripsi, dan analisis diperlukan untuk semua filsuf yang telah matang.

1 komentar: